Sabtu, 14 Januari 2012

Naskah Drama: Do’a Si Miskin

Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/

Musik Pagi.
Pagi hari tatkala ayam jantan masih berkokok dan embun-embun mulai berterbangan. Anak-anak mulai bangun dari tidurnya, dan menyanyikan sebuah lagi dari tempat tidurnya masing-masing

Inilah pagi ayam jantan berkokok
Membangunkan matahari
Embun-embun bercengkrama
Pada rerumputan

Read More......

Minggu, 25 September 2011

Naskah Teater Anak: Mata Kucing

Mata Kucing
Karya: Rodli TL

Sinopsis
Adalah tentang permainan tardisi yang sering kali dimainkan anak-anak di pelataran pada malam bulan purnama. Awalnya mereka bermain dengan suka ria, namun kemudian salah satu dari mereka ada yang tidak sportif dalam permainan. Sasa lebih memilih tidur daripada mencari teman-temanya yang sedang bersembunyi ketika bermain petak umpet.

Mega, anak perempuan yang paling besar kemudian marah-marah dan mengajak meninggalkan Sasa yang tidur sendirian di pelataran.

Sasa mengigau, dan teman-temanya menganggap ia kesurupan karena ketakutan. Kemudian Uzan, dan Rio menyalahkan Mega. Uzan dan Rio tidak mau bertanggungjawab pada apa yang sedang terjadi pada Sasa. Mereka pun mulai bertengkar saling menyalahkan, lempar batu sembunyi tangan.

Sedang Kiki anak terkecil lebih suka bermain dari pada mempedulikan pertengkaran teman-temanya.

Setting:
Di pelataran rumah kampung pada malam bulan purnama

Tokoh:
1. Mega, anak perempuan yang paling besar. Sedikit terlihat jiwa kepemimpinannya. Pemikiranya agak mulai dewasa.
2. Sasa, anak perempuan yang suka membuat masalah. Seringkali tidak mau sportif dalam permainan.
3. Uzan, anak laki-laki yang sifatnya kadang egois. Ia tidak mau dipersalahkan.
4. Rio, anak laki-laki yang tidak punya pendirian. Selalu ikut apa kata Uzan.
5. Kiki, anak perempuan terkecil yang masih lugu.
***

Anak-anak bermain di pelataran. Mereka bermain “Pung-Pung Balung” kemudian menyusun semua telapak tangan. Masing-masing menggengem tiap jari jempol milik temannya dengan bernyanyi “Pung-Pung Balung”

pung pung balung
bumi merak bumi mancung
mekaro ndok sepiti pyar

Telapak tangan yang paling bawah terbuka di setiap akhir nyanyian. Kemudian mereka melanjutkan nyanyiannya dengan nyanyian “Yek Uyek Ranti”, sambil mengunyek punggung tangan, mereka bernyanyi

Yek-uyek ranti
Ono bebek pinggir kali
Nothol pari sak uli
Ditangisi mrebes mili
Serontang seranting
Ono bajing nyolong gunting
Guntinge mbok petoro
Uleno nang ngabean
Golekno payung abang
Abang-bang seronce
Sedelek ceplis

Pada setiap akhir lagu, salah satu anak mengangkat setiap telapak tangan ke kepala pemiliknya. Dan pada akhirnya masing-masing mengangkat kedua tangan, seakan memanggul keranjang di atas kepala. Salah satu diantara mereka kemudian menanyakan isi keranjang tersebut.

1. Mega: Kalian semua sedang membawa apa?
2. Anak-Anak: Membawa keranjang berisi hewan
3. Mega: Coba turunkan, saya ingin tahu

Anak-anak menurunkan isi keranjang sambil bersuara seakan suara hewan yang ada dalam keranjang. Lalu mereka memainkan menjadi hewan. Kemudian mereka adu kekuatan dengan suara-suara.

4. Uzan : (bersuara menjadi kambing)
5. Kiki : (bersuara menjadi burung)
6. Sasa : (bersuara menjadi kucing)
7. Rio : (bersuara menjadi ayam)
8. Mega : (bersuara menjadi tikus)

Suara hewan-hewan bersahutan seakan di margasatwa. Suaranya menjadi nyanyian. Kadang-kadang merdu. Kadang-kadang menakutkan.

“embek-embek cicit-cuit cicit-cuit meong-meong pethok-pethok cit-cit uwiing”

9. Uzan: Aku berbadan besar. Akulah kambing, merumput pada pematang sawah

10. Kiki : Aku si kecil tapi cantik. Aku terbang, dan hinggap pada pepohonan

11. Sasa : Akulah si manis. namun bertaring. Aku suka makan daging

12. Rio : Akulah si ayam. Suka memakan biji-bijian
13. Mega : Aku si tikus. tapi aku adalah si tikus putih yang cantik dan tidak menjijikkan
14. Heni : Akulah si nyamuk, centil, dan suka menggigit mereka yang malas bersih-bersih
Mereka berlari sambil meneriakkan tentang binatang yang dianggap mengganggu hidupnya.
Burung hinggap dan mematuk-matuk tubuh kambing

15. Fauzan : Aduh, tubuhku sakit. Tubuhku dipathok burung
Tikus mengejar burung

16. Kiki : Takut, aku dikejar-kejar tikus
Kambing menyeruduk kucing

17. Sasa : Waduh bahaya, ada si kambing bertanduk. Ia suka Menyeruduk
Tikus merebut makanan ayam

18. Rio : Dasar si tikus. Selalu saja menggangguku. Ia merebut Makananku
Nyamuk merasa aman. Ia leluasa terbang kesana-kemari

19. Heni : Uwiing, nyamuk tidak takut apapun, karena hidupnya nyamuk pada malam gelap-gulita, nyamuk juga tidak takut pada hantu, uwiiing…

Anak-anak berlarian, mereka seakan dikejar puluhan nyamuk

20. Anak-anak : (bernyanyi)

Banyak nyamuk digigit sakit
Aduh aduh, nyamuknya nakal

Anak-anak berlarian sambil mengibas tangannya, mereka terus bernyanyi sambil melakukan gerakan tari. Lama-lama mereka kelihatan lelah. Pelan-pelan tertidur.

21. Heni : Wah, mereka kok tidur semua ya, kalau begitu nyamuk juga mau tidur. Nyamuknya ngantuk. Nyamuknya tidur, uwiiiing…

Semua tertidur pulas, dengkuran mereka bersahut-sahutan.
Tak lama kemudian Sasa yang memerankan sebagai kucing bangun. Bergerak mengaum.

22. Sasa : Meong, meooong…..

Mega yang menjadi tikus itu bangun dengan ketakutan. Layaknya seekor tikus yang mau diterkam oleh seekor kucing

23. Mega : Mata kucing, mata kucing itu seakan mau menerkamku.

Satu persatu anak-anak terjaga dari tidurnya dengan rasa takut. Pelan-pelan mereka berkumpul bergerak menjauhi si kucing. Mereka bergerak dengan nyanyian.

“mata kucing, mata kucing, seakan menerkamku”

24. Mega : Ayo kita bersembunyi!
25. Anak-anak : Ayo….

Sambil menyuarakan suara binatang, anak-anak bersembunyi, sedang Sasa harus menutup matannya sambil bernyanyi meminta bantuan setan gundul untuk menemukan persembunyian teman-temannya.

26. Sasa : (bernyanyi)

Setan gundul temokno koncoku,
Sing gak koen temokno tak uyoi ndasmu

27. Kiki : Belum (belum menemukan tempat persembunyian)
28. Rio : Aku juga belum, aku masih mencari tempat persembunyian

29. Mega : Cuit
30. Uzan : Cuit

Sasa terus bernyanyi sedang teman-teman lain bercicit-cuit, seperti memainkan musik iringi nyanyian Sasa.

Anak-anak yang bersembunyi terus bercicit-cuit untuk mengeco Sasa. Sedang Sasa bergerak kebingungan sampai ia ketiduran. Suara cicit-cuit terus mencericit. Lama kemudian Sasa berhenti mencari dan kembali tidur.

31. Mega : Sssst, sepertinya ada yang tidak beres.
32. Uzan : Kenapa Mega?
33. Mega : Coba kamu lihat Sasa, si anak kentongan itu. Dia pura-pura tidur, dia tidak mau mencari kita.

34. Kiki : Hi Sasa, tidak boleh nakalan begitu!
35. Rio : Iya, tidak boleh cepat menyerah. kalau nakalan seperti itu permaianan kita tidak seru.

36. Mega : Aku punya ide.
37. Heni : Ide apa itu?
38. Mega : Anak yang nakal, yang tidak sportif dalam permainan kita nakali juga.

39. Uzan : Maksud Mega?
40. Mega : Kita tinggal saja dia, biar dia tidur di sini sendirian, biar digondol setan gundul.

41. Rio : Ya, aku setuju.

Anak-anak mulai meninggalkan arena permainan dengan melantunkan tembang dolanannya.

Setan gundul gondolen Sasa
Setan gundul gondolen Sasa

42. Uzan : Stop, sepertinya kali ini Sasa tidak pura-pura tidur. ia benar-benar tertidur.

43. Kiki : Ya, Sasa kan biasanya penakut. Tapi hari ini dia tidak takut.

44. Rio : Pasti dia tidur sungguhan. Andaikata ia tidur-tiduran, ia pasti bangun dan mengejar kita. Ia pasti takut sendirian.

45. Kiki : Kita klitiki aja dia, pasti ketahuan, apakah dia benar-benar tidur Atau pura-pura!

Mereka berempat jalan mengendap-endap sambil membawa setangkai sapu lidi. Mereka gunakan untuk mengkelitiki telingah Sasa. Sasa terbangun, tapi ia seperti orang yang sedang ngigau. Ia duduk, berdiri dan berjalan sambil mulutnya nggedumbel.

Setan gundul, temokno koncoku
Sing gak koen temokno tak uyoi ndasmu.

Sasa terus berjalan dengan mengucapkan beberapa kalimat setan gundul tersebut.

46. Rio : Wah bahaya, dia kerasukan setan
47. Mega : Maksud kamu keserupan?
48. Kiki : (Menangis karena ketakutan) Sasa kesurupan ya? Mae, mae, aku takut…

Sasa kemudian kembali lagi ke tempat semula dan terus bergumam memanggil-manggil setan gundul.

49. Uzan : Mega, bagaimana ini semua tejadi? Ini semua gara-gara kamu.

50. Rio : Ya, ini gara-gara kamu. Sasa kesurupan dan kiki menangis ketakutan

51. Mega : Apa, gara-gara aku. ini salah Sasa sendiri. Enak-enak main kok dia malah tidur.

52. Uzan : Tapi kenapa kamu ajak kita untuk meninggalkan dia tidur sendiri di sini?

53. Mega : Biar dia kapok. Lagian dia gak sportif. Waktunya jadi dia malah tiduran. Tidak mau mencari. Apa kemudian kita biarkan saja dia, sambil kita menunggu digigiti nyamuk.

54. Rio : Pokoknya, kamu harus bertanggungjawab. Kalau ayahnya marah, aku tidak ikut-ikut

55. Uzan : Ya, kamu sendiri yang salah. Bukan kita.
56. Mega : Hai, kalian nyrocos saja, chicken you are! Pengecut kau!

Mereka terus berdebat. Sedang Kiki terus menangis dan Sasa sudah tidak ngomel lagi. Ia kembali tidur sambil mendengkur.

Uzan dan Rio terus tidak mau kalah. Ia terus menyalahkan Mega. Mereka mengolok-olok mega dengan nyanyian.

57. Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokoknya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
58. Mega : (bernyanyi) Hai, hai hai hai…
59. Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokonya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
60. Mega : (bernyanyi) Hai, chicken chicken you are, Pengecut kau!

Don”t be chicken, jangan jadi pengecut kau!

61. Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokonya dia yang buat ula, kita tak tahu apa”
62. Mega : Stop

Dengan terlihat marah, mega membentak mereka. Spontan nyanyiannya berhenti

63. Mega : Teman, jangan lempar batu sembunyi tangan, ini masalah kita bersama, seharusnya kita hadapi dengan kesatria.
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

64. Uzan : Ayahnya datang!

Mereka berlarian mengisis ruang kosong dan saling bertabrakan. Mereka mengadu kesakitan

65. Mega : Rasakan kalian pengecut. Itu adalah batunya orang yang lempar sembunyi tangan.
Sasa tiba-tiba terbangun dan menceritakan mimpinya.

66. Sasa : Aku tadi tidur ya? Aku bermimpi bertemu dengan setan gundul. Setan gundul itu lucu sekali. (mengamati temannya yang kesakitan) Kenapa kalian mengerang kesakitan? Jatuh karena lari ya. Kenapa, takut sama setan gundul. Setan gundul alias tuyul itu imut, lucu.

67. Uzan : Hai, kucing, ini semua gara-gara kamu. Kamu merasa bersalah tidak ?

68. Sasa : Apa salah saya?
69. Rio : Hai, kamu tadi tidur apa kesurupan?
70. Sasa : Yang jalas aku bermimpi bertemu dengan setan gundul yang imut.

71. Uzan : Kamu sekarang sudah sadar belum? Jangan-jangan masih mengigau

72. Mega : Ayo kita jiwiti dia
Mereka bersama-sama menjiwit Sasa. Sasa mengerang kesakitan

73. Mega : Ternyata dia sudah sadar. Tidak ngigau lagi
74. Rio : Jangan-jangan dia masih kesurupan

Tiba-tiba Sasa menangis karena kesakitan

75. Kiki : Hayo hayo si Sasa menangis

Sasa mengerang menangis kesakitan. Mereka berdebat saling menyalahkan lagi.

76. Uzan dan Rio : Aduh, Mega lagi Mega lagi
77. Rio : Mega, kenapa kau selalu membuat ulah.
78. Uzan : Ya, tangan kamu banyak setannya. Selalu membuat masalah.

79. Mega : Hai, dasar kalian otak keyong, kenapa kalian selalu menyalahkan aku?

80. Rio : Siapa lagi kalau bukan kamu
81. Mega : Apa yang mencubit sasa tadi tangan saya sendiri?
82. Ucan : Tapi, kamu yang mengajak kan?
83. Mega : Dan kalian ikut kan?

Mereka kaembali berdebat sambil bernyanyi

84. Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokoknya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
85. Mega : (bernyanyi) Hai, hai hai hai……
86. Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokonya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
87. Mega : (bernyanyi) Hai, chicken chicken you are, Pengecut kau

Don”t be chicken, jangan pengecut kau

88. Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokonya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
89. Mega : Stop, berhentiii! Aku muak dengan kepengecutan kalian!
90. Kiki : (berdiri) Kenapa orang besar sukanya bertengkar. Selalu

saja beranggapan dia yang paling benar. Kapan waktunya untuk bermain, bersendah-gurau

91. Uzan : Kiki, diam sebentar!
92. Kiki : Aku tidak suka pertengkaran
93. Uzan : Hai hai hai, sekali lagi diam!
94. Kiki : Apa semua masalah harus diselesaikan dengan pertengkaran?
95. Rio : Kiki, diam, jangan banyak bicara!
96. Mega : Hai teman, dia punya hak untuk bicara
97. Uzan : Tapi dia masih kecil
98. Mega : Apa kalian sudah besar?
99. Rio : Tapi paling tidak kita lebih besar darinya.
100. Mega : Tetapi bisa jadi dia lebih pantas bicara dari pada kalian.

Kiki bergerak menjauh dari perdebatan. Ia mencari tempat untuk menyendiri. Dan bernyanyi sendiri.

101. Kiki : (bernyanyi)
pung pung balung
bumi merak bumi mancung
mekaro ndok sepiti pyar

Sasa kemudian datang menghampirinya.

102. Sasa : Kiki, kenapa kamu bermain sendirian?
103. Kiki : Aku tidak suka pertengkaran
104. Sasa : Oh, jadi kamu bermain sendiri, karena yang lain pada suka
bertengkar. Kenapa mereka bertengkar?
105. Kiki : Ini gara-gara kamu.
106. Sasa : Ha, gara-gara aku, apa ya salah aku?(bingung) mereka
bertengkar gara-gara aku. Kiki, aku jadi bingung. Kiki,
apa salah aku?
107. Kiki : Cari sendiri!
108. Sasa : Ayo dong kiki, apa salah aku?
109. Kiki : Orang baik itu tahu kesalahan dan kekurangannya sendiri.
Lalu ia berusaha memperbaikinya.

Bertemu kembali dan meneruskan perdebatan

110. Mega : Sekarang ayo kita akhiri perdebatan kita.
111. Uzan : Tidak mau sebelum kamu mengaku bersalah
112. Mega : Apa, aku yang salah. Justru kalian yang bersalah
113. Rio : Hai hai hai… yang tadi mengajak untuk meninggalkan
Sasa itu siapa?
114. Mega : Kalian juga mendukung kan?
115. Uzan : Yang tadi mengajak untuk menjiwit Sasa siapa?
116. Mega : Kalian juga mendukung kan, ayo, masih menyalahkan
orang lain, masih tidak merasa bersalah, tetap lempar batu
sembunyi tangan!?
Mereka terus berdebat. Saling menyalahkan dan tidak mau saling mengakui kesalahannya.

117. Sasa : Oh oh oh… sekarang aku tahu kesalahanku. Ini semua gara-gara aku. aku tidak sportif dalam permainan. Satu keselahan kecil, akan menciptakan kesalahan-kesalahan yang lebih besar. Aku baru sadar, perbuatan yang tidak baik itu pasti membuat orang lain menjadi menderita.

Sasa kemudian berlarian meminta maaf pada teman-temannya.

118. Sasa : Minta maaf, minta maaf, minta maaf ya, aku minta
maaf….
119. Uzan : Hai diam. Kenapa kau berteriak-teriak?
120. Sasa : Minta maaf!
121. Rio : Kenapa meminta maaf?
122. Sasa : Aku bersalah
123. Uzan : Lihat Mega, Sasa saja mau minta maaf, lalu kamu
bagaimana? Kamu mau meminta maaf tidak?
124. Mega : Kamu sendiri bagaimana?
125. Uzan : Aku tidak bersalah, kenapa harus minta maaf
126. Rio : Ya, kita tidak bersalah, kita tidak perlu minta maaf
127. Mega : Dasar kepala batu, maunya yang paling benar.
128. Sasa : Orang-orang yang merasa dirinya sudah besar, mereka
selalu dirinya yang paling benar, padahal padahal mereka
adalah…… (berlari menggandeng tangan Kiki) Kiki Kiki
ayo kita bermain…

Sasa dan Kiki kembali bermain pung-pung balung. Sedang yang lain masih bertengkar, tidak mau damai. Kiki dan Sasa terus asyik bernyanyi. Mereka melanjutkan dengan nyanyian yek-uyrk ranti. Bergerak megal-megol seperti bebek.

TAMAT
Lamongan, Januari 2008

Dijumput dari: http://sastra-indonesia.com/2011/03/naskah-teater-anak-mata-kucing/

Read More......

Opera Jaran Goyang

Naskah berasal dari sandiwara rakyat cirebon “Putra Sangkala”
Rodli TL

Sinopsis :
Sebuah kisah tentang dua anak manusia yang dibedakan oleh status ekonomi. Baridin putra dari Mbok Wangsih dilahirkan di keluarga yang miskin. Ratminah putri dari Bapak Dam terlahir di keluarga kaya. Pertemuan Baridin dan Suratminah menumbuhkan benih-benih cinta di hati baridin. Tapi sayang cinta bertepuk sebelah tangan, suratminah menolak cinta dan lamaran baridin. Bahkan Mbok Wangsih yang mengantarkan lamaran baridin dihina dan dicaci maki oleh Suratminah dan bapak Dam.
Disinilah timbul dendam Baridin kepada suratminah atas kesombongan dan perilakunya kepada Ibunya, Mbok Wangsih.
Atas bantuan Gemblung dengan cara memberikan sebuah mantra kuno bernama “Ajian Jaran Goyang”, Baridin mengamalkan mantra tersebut demi balas dendamnya kepada suratminah.
Sampai akhirnya Suratminah terkena rapalan mantra itu, bukan berbalik cinta kepada baridin, tapi suratminah menjadi gila oleh mantra itu sampai menemui ajalnya.
Bagaimana dengan baridin apakah dia puas dengan pembalasan dendamnya ? Baridin yang terbebani oleh dendam dan cinta kepada suratminah tidak kuat mengatasi kehebatan dari mantra jaran goyang, sehingga baridin ikut juga menemui ajalnya.
Hingga saat ini baridin dan suratminah dimakamkan dalam satuliang lahat.
Inilah kisah dari cirebon.

Babak 1

Sebuah setting panggung di rumah sangat sederhana berdindingkan bambu. Seorang laki-laki tengah tergolek tidur di balai bamboo. Kemudian datang seorang perempuan dari dalam berumur sekitar 45 tahun sedang menyapu lantai.

Mbok wangsih :
Din… Baridin… bangun din ! hari sudah siang begini kamu masih tidur. Kamukan mau membajak sawahnya mang Bunawas.

Baridin Cuma mengeliat-liat dan berganti posisi tidur ketika dibngunkan ibumya.
Mbok wangsih:
Heh din ! bangun ! bangun ! sawah mang Bunawas bagaimana heh!!

Kemudian ada seseorang yang datang
Mang Bunawas :
Punten ! Punten!

Mbok Wngsih :
Eh .. mang bunawas

Mang Bunawas :
Baridin ada mbok?

Mbok Wangsih:
Ada mang….. Din ! ada mang bunawas !

Mendengar siapa yang datang Baridin segera bangun sambil menggosok matanya yang masih ngantuk.
Baridin :
Eh… Mang Bunawas..

Mang Bunawas :
He din ! hari sudah siang kamu masih tidur ! Niat kerja nggak ?!

Baridin :
Minta maaf mang Bun, tadi malam saya nonton wayang, jadi bangun kesiangan.

Mang bUnawas :
Jadi maumu apa ?

Baridin :
Kalau besok saja bagaimana mang?

Mang Bunawas :
Hei din ! yang benar saja, depan belakang sawah sudah dibajak. Masa sawah saya saja yang belum diapa-apakan. Pokoknya saya gak mau ! tahu hari ini harus selesai. Sanggup gak kamu din?

Baridin :
Ya sudah mang kalau begitu . Tapi saya belum jelas dimana sawah mang Bunawas?

Mang Bunawas :
Disebelah timurnya bukit dekat kelurahan. Tahu gak kamu.

Baridin :
Ya ya mang. Kalau begitu saya kesana.

Mang bunawas :
Ya sudah saya duluan. Saya tunggu lho din ! Mbok ! Mbok saya permisi dulu

Mbok wangsih :
Lho .. kok buru-buru mang ? belum saya buatkan minuman kok…

Mang Bunawas :
Trima kasih… lain kali waktu aja. Masih ada keperluan.. Mangga mbok..

Mbok Wangsih :
Mangga.. mang

Kemudian baridin keluar berangkat ke sawah
Baridin :
Kalo begitu baridin berangkat dulu. Minta doa restunya semoga cepat selesai pekerjaan baridin hari ini.

Mbok wangsih ;
Ya ya ..mbok doakan… Hati-hati dijalan din.

Baridin :
Ya mbok !..

Babak 2

Setting tempat disebuah jalan menuju pasar dekat jembatan. Seorang gadis sedang komat kamit mengingat sesuatu. Tak jauh dari tempatnya berdiri, 3 orang pemuda sedang asyik ngobrol dan kemudian melihat kearah gadis itu muncul keinginan untuk menggoda.

Suratminah :
Aduuh…. Apa ya pesanan bapak tadi ? kok lupa ya…nggg…tak ingat-ingat dulu, tadi bapak pesan kopi , gula, ikan tongkol, …terus bawang merah, bawang putih, teruss..

Para pemuda :
Haaaa !!!!

Ratminah kaget dibuatnya
Pemuda 1 :
Latah ya ? masih muda kok latah
Pemuda 2:
Bocah cantik… bocah denok… nang-ning-nang-ning…

Ratminah :
Hei ! hei ! kebiasaan sih ! setiap pergi kepasar pasti ada saja yang iseng. Apa kalian tidak tahu kalau saya ini anak orang kaya !

Pemuda 2 :
Hei nok, jadi anak orang kaya itu ya jangan sombong..

Pemuda 3:
Hei dengarkan ini, beli manggis di pasar tanjung, naik ojek bayarnya mahal.. gadis manis yang kusanjung, jadi cewek jangan jual mahal !

Ratminah :
Hei ! dengarkan ini juga ya! Naik ojek sambil jalan-jalan, beli cuka dapatnya garam… orangnya jelek gak karuan ! ngomong suka gak punya uang !

Pemuda 1 :
He nok.. jagan malu-malu..sama aku saja. Ini aku punya kumis…. Lebat lagi kumisnya..

Para pemuda :
Seratus untuk kumis !!

Ratminah :
Hei dengarkan !! rujak manis rujak asem, rambutan manis terkelupas isinya.. punya kumis bau asem!! Rambutnya lebat banyak lalatnya !! sudah pergi sana!! Sana!! Tak bilangin bapak tahu rasa !!

Musik berkumandang lagu dinyanyikan

Para pemuda :
“lenggak-lenggok goyang jalannya
gadis denok tinggi omongannya
disapa malah marah-marah
apa gak ngerti… marah itu bisa jadi malah berbahaya “

Ratminah :
“dasar mata keranjang lihat gadis sintal
colak colek pinggir jalan omongannya kurang sopan
tidak malu sama orang
dasar kamu orang pengangguran “

Para pemuda :
“hei ! jangan bilang gitu !“

Ratminah ;
“sebab menghina aku …”

Para pemuda :
“Inikan intermezzo “

ratminah :
“dasar hidung belang beraninya keroyokan !”

Kemudian datang baridin mengganggu para pemuda yang menggoda Ratminah
Baridin :
Mang.. mang… permisi mau nanya, dimana sawahnya mang bunawas ?

Pemuda 3 :
Sawahnya mang bunawas luruuuss…ini luruus saja

Baridin :
Sebelah mananya bukit mang ?

Pemuda 3 :
Timurnya bukit. Sudah ya, sana pergi, pergi… ganggu orang saja..

Para pemuda itu kembali mengganggu ratminah selepas kepergian baridin.
Para pemuda :
Bocah manis.. bocah denok…. Blakthuk…blakthuk…
Ratminah :
Hei ! masih ganggu terus sih !

Pemuda 3 :
Buah salak, buah kedondong…. Jangan galak dong !

Ratminah :
Dasar gak punya aturan ! beraninya hanya di jalan ! kalian semua itu ya coba ngaca ! Ngaca ! Apa kalian tidak tahu ! yang suka sama suratminah itu orang-orang yang ber-dasi, ber-jas, ber-kaliber, ber-uang !

Para pemuda :
Hah ! jadi yang suka sama kamu itu B-E-R-U-A-N-G !!
“cepon-cepon kayu…oleh wadon asal ayu…
kayu-kayu crème…wong ayu manis eseme..
crème sipongpongan ayo pada jaipongan”
“nona manis jangan menangis
sendirian apa butuh teman
kalo boleh kami temani
bisa tinggal pilih….jangan takut banyak duwit asal minta cubit..”

Ratminah :
“Dasar mata keranjang ! makin macam-macam
colak-colek pinggir jalan omongannya kurang sopan
dasar lelaki kampungan
tak malu kalo kemps kantongnya

Para pemuda :
“hei jangan bilang gitu !”

Ratminah :
“ biar kamunya mikir”

Para pemuda :
“tapi aku tersindir”

Ratminah :
“dasar hidung belang lihat gadis ngomong senang”

kemudian tiba-tiba datanglah Baridin mengganggu lagi. Dan Ratminah yang melihat kesempatan itu menyelinap pergi.
Baridin :
Mang… Mang… belum ketemu mang, sawah mang bunawas,cari ditimur..ke barat gak ketemu.

Pemuda 3 :
Aduuuh… ini mengganggu saja.
Pemuda 1 :
Ceweknya hilang..

Pemuda 2 :
Waduuuh… ini gara-gara kamu..waaaah…

Para pemuda itu pergi mencari ratminah.
Kemudian Ratminah datang lagi dengan ketiga kawannya.

Suratminah :
Trima kasih atas pertolongannya tadi

Baridin :
Pertolongan apa ya ?

Suratminah :
Ya tadi para berandalan itu, tidak tahu kalo saya pergi, karena ada kamu. Ngomong-ngomong kamu jualan apa sih ?

Baridin :
Oh ini…saya bukan mau jualan, ini saya mau membajak sawahnya mang bunawas.

Suratminah :
Kamu kok lucu…

Musik berkumandang.
Baridin :
“tiba-tiba aku terkejut …. Lihat gadis langsung kepincut
lirikannya senyumannya sangat maut
bikin hatiku kalang kabut
perkenalkan aku baridin
hidup sedang menderita batin
tiap hari merasa dingin
sebab ingin merasakan kawin”

Ratminah :
“mau dingin mau kawin gak mikirin
sebab banyak gadis yang lain
bunga anggrek hidup di pohon

baridin :
“apa wong ganjen?”

Ratminah :
“Orang jelek tampangnya bloon
Tiba-tiba bicara soal kawin
Kalo ngomong harus piker-pikir
Kunci gembok kunci gerendel
Orang goblok mirip ondel-ondel”

Baridin :
“kalau mau ngomong jangan sembarangan
nanti bisa jadi bengong
jangan jingkrak-jingkrak kalau mau nolak
nanti bisa malah ngajak”

Suratminah :
“idih ! jangan asal ngomong
begitu juga ngajak gak apa ngajaknya
ngajaknya kamu aduh sangat lah percuma
sebabnya kamu orang gak punya
gak pantes ratminah jodohnya “

Baridin :
“kalo ditolak nanti dukun yang bertindak”

Suratminah :
“biar gilapun aku tidak akn mundur”

Baridin :
“ngomong begitu apa beneran “

Suratminah :
“biar sumpah tujuh turunan”

Gadis-Gadis :
“hei kau baridin ngomongnya dipikir-pikir
hei kau baridin jangan asal banting setir
ratminah gak mungkin mabuk baridin
dasar baridin kepingin kawin”

Baridin :
“nok-nok bocah denok bokong semok
nok-nok baridin suka tidak kapok
biarpun kamu lari kegunung kukejar walau kesandung”

Ratminah :
“ kepingin aku… aduh sabar dulu
apa gak tahu kau orang tak mampu..”

Baridin :
“kalo niat..”

Suratminah :
“orang yang niat, harus yang kuat
kalau benar kamu suka aku apa yang jadi lamaran ?”

Baridin :
“nih terimalah “

Ratminah :
“Apa? “

Baridin :
“Lamaran aku”

Ratminah ;
“Bajak ? !”

Baridin :
“Jangan mencibir, Ku ngarti kamu nolak jangan marah……. jangan murka….”

Ratminah :
”Orang jelek celananya sobek…. Omongannya kaya’ bebek”

Gadis-Gadis :
“hei kau baridin ngomongnya dipikir-pikir
hei kau baridin jangan asal banting setir
ratminah gak mungkin mabuk baridin
dasar baridin kepingin kawin”

kemudian Baridin ditinggal menggerutu sendirian.

Babak 3

Dirumah baridin, mbok wangsih sedang bingung menunggu kepulangan anaknya yang belum pulang juga.

Mbok Wangsih :
Hari sudah sore anakkku baridin masih belum pulang juga. Ada halangan apa ya ? tidak seperti biasanya..

Kemudian datang Mang Bunawas dengan marah-marah :
Mang Bunawas :
Mbok ! Mbok ! Anak kamu itu waras ?! apa gak waras ?!

Mbok Wangsih :
Ya waras mang… Memangnya ada apa mang ?

Mang Bunawas :
Coba kamu pikir, aku nunggu dari pagi sampai sore, eh dia gak datang-datang ! Kemana dia mbok !

Mbok Wangsih :
Dia sudah berangkat dari pagi tadi mang… Saya juga bingung, sudah sesore ini baridin belum pulang. saya pikir dia membajak sawahnya mang bunawas.

Mang Bunawas :
Mbajak sawah ?! bajak sawah bagaimana ? la wong dari pagi dia tidak kelihatan batang hidungnya !!

Mbok Wangsih ;
Tapi benar dia tadi berangkat…

Tiba-tiba baridin datang mengagetkan semuanya dengan melempar alat bajaknya.
Mang bunawas ;
Lihat Mbok ! anakmu ini memang gak waras ! Hei din, dari mana saja kamu ? aku tunggu dari pagi sampai sore, eh malah tidak datang. Ada apa din ?

Baridin ;
Maafkan saya Mang Bun, soalnya tadi di jalan saya mendapat halangan.

Mang Bunawas :
Halangan apa ?

Mbok wangsih :
Iya din, ada halangan apa ?

Baridin :
Halangan berat pokoknya !

Mang Bunawas :
Halangan apa ?

Baridin :
Pokoknya halangan saja ! Mang… bagaimana kalau membajak sawahnya besok saja ?

Mang Bunawas :
Hei din, kamu yang benar saja, kanan kiri, depan belakang sawah sudah siap ditanami padi, masa’ tinggal sawah saya saja yang belum diapa-apakan ? hei din saya percaya sama kamu, karena itu saya suruh kamu membajak sawah saya.. eh malah kamu gak karuan gitu !! Ya sudah ! saya cari orang lain saja ! Permisi mbok !

Baridin :
Maafkan saya Mang Bun..

Mbok Wangsih :
Maafkan anak saya mang ..

Mang bunawas :
Sudah ! Sudah ! (mang bunawas pergi)

Mbok wangsih hanya mengelus dada melihat tingkah laku anaknya.
Mbok wangsih :
Sebenarnya ada masalah apa din ? coba ceritakan sama mbok..

Baridin :
“Mbok wangsiiih… sebelum aku kesawah disebelah pasar dekat jembatan aku mendapat halangan..
halanganya ..bikin pusing pikiran.. bertemu gadis cantik suratminah namanya … bocah denok, bocah montok yang bikin orang suka..
aduh..aduh..aduuuuh…. aku jatuh cinta…”

Mbok wangsih :
Hemm … jadi halangan itu perempuan din ?

Baridin ;
Iya mbok..

Mbok Wangsih :
Kalau itu bukan halangan din

Baridin :
Bukan halangan bagaimana ? karena bertemu dia saya jadi malas kesawah. Selalu kepikiran terus. Mbok saya ingin melamarnya..

Mbok wangsih :
Melamrnya ?

Baridin :
Dia anaknya Bapak Dam

Mbok Wangsih :
Bapak Dam ? Ratminah ? bapak Dam kan yang terkenal kaya raya itu. Coba dengar, kita ini orang miskin. Kok, gak pantas kamu ingin gadis seperti suratminah.

Baridin :
Tapi mbok, sejak pertemuan itu, baridin ingin memilikinya.

Mbok Wangsih :
He din ! sadar din ! Sadar ! Kita ini orang miskin ! Gak pantas kamu ingin kawin sama Suratminah !

Baridin :
Pokonya saya ingin kawin dengan Suratminah !

Mbok wangsih :
Din ! mikir din ! mikir ! otaknya di pake ! kamu itu anake wong miskin. Sedang Suratminah Anake wong sugihan, wong gedean. Gak mungkin Bapak Dam ngasihkan anaknya ke kamu !

Baridin :
Kalau mbok wangsih gak mau, biar baridin bunuh diri saja !

Mbok wangsih :
Apa din ? Bunuh diri ? biar matipun kamu gak bakalan kawin sama suratminah.

Baridin :
Baiklah mbok , baridin bunuh diri saja. Lebih baik mati jika baridin tidak kawin dengan suratminah. Selamat tinggal mbok !

Baridin mengikatkan kain sarung ke lehernya, seolah-olah ingin bunuh diri. Mbok Wangsih mencegah.

Mbok Wangsih :
Din ! din ! Jangan din !din.. kamu anak mbok satu-satunmya jgan bikin susah mbok ya…Dari pada kamu bunuh diri, mbok akan melamar suratminah

Baridin ;
Yang bener mbok ?

Mbok Wangsih :
Tapi kamu jangan berharap lamarannya akan diterima.

Baridin :
Tidak mbok, baridin akan selalu berdo’a semoga lamaran kita diterima.

Mbok Wangsih :
Ya sudah, mbok kebelakang dulu..jangan bunuh diri din..

Mbok wangsih masuk.
Baridin :
Ya mbok !..

Babak 4

Setting di sebuah teras rumah yang lebih bagus, tampak seorang laki-laki berumur sekitar 50-an tahun, tampak gelisah menunggu sesuatu.

Bapak Dam :
Aduh… Aduuh… Ratminah pergi ke pasar sampai sekarang belum pulang juga. Ana halangan apa ini ya? Tadi malam saya bermimpi aneh…… ada halangan apa ya ?… macem-macem…

Kemudian yang ditunggu-tunggu datang.
Ratminah :
Pak ! Bapak !…

Bapak dam :
Hei ! darimana saja kamu ! sudah jam berapa sekarang ?

Ratminah :
Anu pak … tadi ratminah dapat halangan..

Bapak Dam :
Halangan apa ayoo…

Ratminah :
Itu tadi di jalan ratminah dicegat berandalan. Untung Ratminah bisa lolos.

Bapak dam ;
Dikejar-kejar berandalan ? terus..terus.. gak ada yang hilang ?

Ratminah :
Hilang apanya ?

Bapak Dam :
Hilang onderdilnyaa.. ya sudah masuk dulu.

Kemudian Ratminah masuk kedalam rumah sedang Bapak Dam duduk di teras rumah. Tiba-tiba datang 2 orang yang berniat melamar.
Para Pelamar :
Assalamualaikum……

Bapak Dam ;
Waalaikum salam.. eh ada tamu…

Pelamar 1 :
Apa benar ini rumah Bapak Dam ?

Bapak Dam :
Benar-benar silahkan masuk..masuk.. silahkan duduk.. Rat ada tamu !

Ratminah keluar. Musik berkumandang
Bapak dam :
“silahkan maunya apa?…”

Pelamar 1 :
“ Kalau mau tahu, aku juragan nelayan
tiap kali pulang uangnya pasti dolaran
tidak kurang sandang pangan.. anak bapak kenyang ikan “

Ratminah :
“tidak mau.. tidak mau.. sebab aku sudah tahu
katanya yang dulu-dulu
pelaut sukanya gitu
gak mau aku dirayu..gak mau aku di madu..
nanti dulu jangan harap dapat aku”

Bapak dam :
Sama juragan nelayan gak mau ? nanti kenyang ikan ?

Ratminah :
Nggak bapak

Bapak dam :
Ya sudah silahkan duduk..
“silahkan maunya apa ?’

Pelamar 2 :
“jangan macem-macem sama aku bintang filem
aku sudah yakin Ratmianh pasti kesengsem
hidup tentrem adem ayem siap pakai luar dalem”

Bapak Dam :
“saya suga seneng dapat mantu bintang filem
asal jangan sampai dapat peran macem-macem
mata melek merem-merem.. urusannya jadi runyem “

Ratminah :
“ memang serem-memang serem.. punya suami bintang filem
sering pulang larut malem.. alasannya macem-macem
bilangnya ada sutingan, bialangnya urusan peran
padahal sih diluar banyak simpanan..”

Bapak Dam :
Sama bintang filem gak mau juga ? nanti di suting ?

Suratminah :
Enggak bapak

Bapak Dam :
Ya sudah bikinkan minum tamunya. Maaf ya anak saya belum cocok dengan saudara-saudara. Jadi mohon maklum apa adanya..

Pelamar 2 :
Yaaa… kalau tidak cocok tidak apa-apa… tapi tadi kami naik becak ongkosnya 2000

Bapak Dam :
Terus..

Pelamar 2 :
Jadi mangga mriki… ganti ongkos..

Bapak Dam :
Heh ganti ongkos ?! sebentar-sebentar sampean kesini disuruh siapa ?

Pelamar 1+2 :
Yaaa … disuruh kami sendiri !

Bapak dam :
Nah.. terus..terus..

Pelamar 2 :
Nah..tadi kan saya naik becak ongkosnya 2000..
Bapak dam yang mendengar itu jadi marah dan menggebrak meja
Bapak Dam :
Heh !!! Apa sampeyan tidak tahu, Bapak dam mantan jawara. Sampean kesini mau ngrampok !! Ayo !! Ayo !! (bapak dam seperti mau ngajak berkelahi) ayo ! Tak jotos kupinge getien !!

Para pelamar itu lalu kabur. Kemudian Ratminah keluar sambil membawa air miinum.
Ratminah :
Lho ?? mana tamunya pak ??

Bapak Dam :
Tamu penipu !!

Ratminah :
Ya sudah buat bapak saja minumnya. Saya kebelakang dulu.

Bapak Dam kembali ke tempat duduknya. Kemudian datanglah pelamar berikutnya yaitu Mbok wangsih.
Mbok wangsih :
Waaah… rumah Ratminah besar dan indah. Baridin kok gak ngukur ya ..

Kemudian muncul suara anjing
Bapak Dam :
Rat ! Rat ! siapa ! siapa diluar !

Ratminah keluar melihat siapa yang ada diluar :
Ratminah : apa pak ?

Bapak Dam :
Biasa.. boby..lihat diluar siapa ?

Ratminah :
Oooh .. ada pengemis pak

Bapak Dam ;
Kasih..kasih..

Ratminah :
Berapa ?

Bapak Dam :
Seket !

Ratminah :
Seket ? Nih mbok skeet !

Mbok Wangsih :
Nok…. Tidak nok..mbok bukan mau ngemis..

Ratminah :
Idiiih gak mau ! gak mau pak!

Bapak dam :
Paling munggah-munggah

Suratminah :
Berapa ?

Bapak Dam :
Satus !

Ratminah :
Nih mbok satus !

Mbok wangsih :
Bukan nok mbok tidak mengemis, tapi mbok mau ada perlu…

Ratminah :
Pak ! gak ngemis katanya. Mau ada perlu..

Bapak Dam :
Ada perlu ? aduuh siapa ya ?

Setelah bapak dan tahu siapa yang menemuinya
Musik kembali berkumandang
Bapak Dam :
“silahkan maunya apa?”

Mbok Wangsih :
“sebelum di usir coba bapak pikir-pikr
walau hati nangis saya tidak mau ngemis
saya mau ada perlu suratminah calon mantu”

Bapak Dam :
“coba ngomonglah.. sebenarnya siapa ?

Ratminah :
“coba ngomonglah… kau maunya apa?”

Mbok Wangsih :
“diriku ini nama Mbok Wangsih
mau minta suratminah dari bapak dam
baridin ingin melamar”

Bapak Dam :
Ngarti..ngarti… jadi sampean kesini mau melamar anak saya ? mau meminang suratminah ? Surat mianah anak saya satu-satunya mau dilamar wong macem sampeyan ?! menghina ya ?! Ngece ?! tak jotos kupinge getien sira !!

Ratminah :
Apa pak ?! mau melamar ? iiih.. he mbok ! Mbok melamar buat siapa ?!

Mbok Wangsih :
Buat… buat anak mbok nok.

Ratminah :
Iya siapa ?!

Mbok wangsih :
Ba.. ba… baridin nok….

Ratminah :
Baridin ?

Bapak Dam :
Bridin.. bridin –bridin sapa ?

Ratminah :
Oooh…. Baridin yang bawa wluku ? yang celananya tambalan ? idiiih…. Amit-amit mbok.. siapa yang mau ?

Bapak Dam :
Hei! Hei ! Hei ! apa sampaean gak ngerti, tamunya bapak dam nembe pating kluyur.. wong gedean, wong sugihan… wong nggowo motor –mobil-sepur ! berani-beraninya nglamar ! wis ambune blenak !!

Ratminah :
Baunya Asem !!
Bapak Dam :
Rambute Ruwet !!

Ratminah :
Klambine dowal-dawul !! Apa mbok itu gak mikir ! gak mikir !

Bapak dam :
Usir! Usir Rat ! Usir ! Siram Rat !!

Ratmainah :
Pergi mbok ! pergi !

Mbok wangsih menangis setelah diludahi dan disiram ratminah.
Ratminah :
Orang Gila pak ..

Bpak Dam :
Iyaa…

Bapak dam suratminah masuk.

Babak 5

Setting panggung berada di rumah baridin. Tampak baridin gelisah menunggu kedatangan mbok wangsih.

Baridin :
Mbok wangsih kemana ini ya ? berangkat dari tadi kok belum pulang… (kemudian dia merasa senang) tidak disangka sebentar lagi baridin jdi pengantin…duduk bersanding dengan suratminah …uhuy !!

Kemudian datanglah kawan Baridin, Gemblung bertamu ke rumah baridin.
Gemblung :
Din ? din ?…

Baridin :
Eeeh… gemblung, sudah lama kita tidak bertemu…dari mana saja blung ?

Gemblung :
Emangnya kenapa din ? dari tadi saya lihat cengar-cengir terus.

Baridin :
Kamu itu blung, kalo saya ibaratkan seperti ular maranin pentungan.

Gemblung :
Maksudnya apa ?

Baridin :
Maksudnya, kebetulan sekali. Sekalian undangan, saya mau kawin ! kawin !

Gemblung :
Syukur kalo mau kawin…. Tapi kawin sama siapa din ?

Baridin :
Ah gak ah… takut kamu ngiri

Gemblung :
Alaah !! Paling kamu kawin sama markonah !

Baridin :
Uuuu… markonah mah budheg blung

Gemblung :
Ah ! paling sama saritem ya?!

Baridin :
Saritem anake wong adol srabi ?

Gemblung :
Iyaaa !

Baridin :
Heee .. bukan blung. Kamu mau tahu ? Tapi ada syaratnya, kamu jangan ngirin ya..

Gemblung :
Iyaa..

Baridin :
Yang jadi calon pengantinnya baridin…ayune ..ayu. sugihe.. sugih. Namanya Suratminah Blung.

Gemblung ;
Suratminah ?! Apa saya gak salah dwengar ? Suratminah anaknya bapak dam yang kaya raya itu ?! apa kamu gak ngaca! Ngaca ! coba ngaca !

Baridin :
o-o-o-o… gemblung kliru. Hei blung, orang yang mencuri boleh kamu salahkan, orang yang membunuh boleh kamu salahkan. Tapi orang yang jatuh cinta jangan sekali-kali kamu menyalahkannya, kadang-kadang ada suami istri yang laki-lakinya muda, perempuannya sudah tua. Kadang-kadang ada suami istri laki-lakinya mlarat perempuannya kaya raya.

Gemblung :
Kalo saya terserah kamu saja, sebagai teman saya bahagia kalo lihat teman bahagia.

Baridin :
Terima kasih blung.

Gemblung :
Eh .. din saya pulang dulu ya..

Baridin :
Tapi jangan lupa kamu sering-sering datang kesini, siapa tahu saya butuh tenagamu.

Gemblung :
Ya ya.. ya sudah saya pulang dulu…(gemblung keluar)

Kesenangan baridin tiba-tiba berhenti ketika mbok wangsih datang dengan menangis.
Baridin :
Lho?1 Mbok?! Aduuuh… ditunggu dari tadi pulang-pulang malah nangis ada apa mbok. Ini terong empat dibawa lagi. Aduuh… kenapa mbok ? ngomong ?! Ngomong?!

Mbok Wangsih :
Ini gara-gara kamu din…

Baridin :
Iya ! kenapa ? ngomong ! ngomong !

Mbok Wangsih :
Lamarannya di tolak….

Baridin :
Lamarannya ditolak ?

Mbok wangsih :
Iya din.. malahan mbok di hina habis-habisan… dari pertama mbok sudah katakana, kamu terlalu muluk din.. tapi kamu tetap memaksa. Mbok diperlakukan seperti binatang. Sakit hati mbok din.. sampai kapan kamu menyusahkan mbok din ?

Baridin :
Maafkan baridin mbok… Baridin memang tidak berguna

Mbok Wangsih :
Bosan mbok dengar ucapan itu din ! kamu memang tidak berguna. Bisanya hanya menyakiti mbok! Kamu tahu din…saat ditolak mbok diusir seperti binatang, disiram air, bahkan meludaho muka embok !

Baridin :
Ratminah meludahi muka embok ?! biar kutampar mulutnya mbok !!

Mbok Wangsih :
Suada din ! Percuma ! Sudah cukup kamu menyusahkan embok ! mBok piker daripada kamu terus-terusan menusahkan embok, lebih baik kamu pergi dari rumah ini din..

Baridin :
Mbok….

Mbok Wangsih :
.Mbok cukup menderita dengan kelakuanmu

Baridin :
Mbok…

Mbok Wangsih :
Pergi din ! Pergi ! sebelum mbok memaksamu !

Baridin :
Baiklah mbok, baridin menerima keputusan ini… baridin minta maaf belum bisa membalas jerih payah mbok… baridin berjanji tak akan pulang sebelum membalas sakit hati mbok.

Mbok Wangsih :
Sudah ! cukup ! pergi sana Din ! pergi !

Baridin :
Tega mbok ?…

Mbok Waqngsih :
Tega ..

Baridin :
Mbok…

Bridin pergi dan mbok wangsih tak sanggup menyaksikan kepergian anaknya.

Babak 6

Setting panggung disebuah jembatan dekan pasar. Tampak baridin duduk melamun dekat jembatan, kemudian datanglah kawan baridin , gemblung menemuinya.

Gemblung :
e-e-e-e… dicari kemana-mana ternyata ada disini rupanya. Hei din !

Baridin ;
Huh ! Gemblung ! sana-sana blung ! Baridin lagi selon nih !!

Gemblung :
Ngapain kamu di sini ? ayo pulang ! ayo pulang !
Baridin :
Tidak Blung ! Baridin anak yang tidak berguna ! Sampai mbok Wangsih ega ngusir saya !

Gemblung :
He dengarkan ! Sekarang Mbok Wangsih sudar sadar. Malah saya disuruh mbokmu ngajak kamu pulang. Ayo Pulang ! Pulang !

Baridin :
Tidak blung ! Hidup Baridin sudah tidak berarti ! Hidup hanya jadi hinaan suratminah ! sudah lamrannya ditolah Bapak Dam, suratminah blung, suratminah meludahi Mbok Wangsih !!

Gemblung :
Surat minah meludahi mbok wangsih ?! Kurang ajar suratminah !!

Baridin :
Di caci maki, diusir, sakiit hati ini blng !! sudah hidup miskin jadi hinaan orang, lebih baik baridin mati saja !! (mau melompat dari jembatan ).

Gemblung :
Hei jangan ! Jangan !! kalau baridin mati gemblung siapa temannya.! Ayo pulang !

Baridin :
Tidak ! Baridin tidak akan pulang sebelum mambalas sakit hati mbok wangsih !

Gemblung :
Baiklah kalo mau kamu begitu…

Gemblung ragu meninggalkan Baridin, tiba-tiba gemblung ada sesuatu.
Gemblung :
Hei din ! sini ! sini ! kamu tahu gak kalo aku mendapat warisan ? (berbisik)

Baridin :
Huu!! Kita itu sudah berteman sejak lama blung! dari kecil sampai sekarang,saya tahu waktu bapak kamu mati ketabrak kereta, krieg ! Lalu ibu kamu mati di sambar petir, jgerr ! Bahkan mayatnya diinjak-injak jagir kerbau saya. Trus waktu geger dikelurahan soal warisan, warisan apa ?! warisan cowek bolong ! Warisan cowek bolong diomong-omong !!

Gemblung :
Hei din ! Ini bukan warisan harta. Bukan warisan cowek bolong. Tapi warisan do’a !

Baridin ;
Do’a blung ?

Gemblung :
Iya, do’a bukan sembarang do’a…. do’a aji kemat jaran goyang.. (berbisik)

Baridin :
Jangan macem-macem kamu blung !! Kalo mau bohong sana sama orang lewat !! Jangan sama teman !!

Gemblung :
e-e-e-… tidak macem-macem ini din! Mau bukti ? ini..ini ini din, selalu saya bawa terus. Ini kalo tidak percaya (sebuah kertas lapuk diberikan kepada Baridin)

Baridin :
Ajian …kemat…jaran ..guyang.. tulisannya jawa kuno ya blung..kertasnya sudah lapuk lagi..

Gemblung :
Bagaimana percaya tidak ?

Baridin :
Percaya ! Percaya !

Gemblung :
Kamu mau tahu caranya ? (kemudian gemblung berpikir sebentar ) tapi.. ini berbahaya din..berbahaya ! lebih baik jangan ya !! Jangan !

Baridin :
Eh ! eh ! demi membalas sakit hati mbok wangsih, saya terima resikonya !

Gemblung :
Ngggg….. baiklah maumu begitu. Begini din, kamu harus puasa 40 hari dan ini di baca tengah malam pas jam 12 tepat.

Baridin :
Boleh saya membacanya ? arepan ..ma..ca… ke..mat jaran…gu…yang….

Babak 7

Setting panggung disebuah teras rumah Bapak dam. Tamapak bapak dam bingung memikirkan jodoh anaknya.

Bapak Dam :
Aduuuh… jodoh suratminah apa sudah dekat apa masih jauh ya ? Semua lamaran ditolak.

Ratminah keluar.
Ratminah :
Bapak…

Bapak Dam :
Hei sini-sini.. bapak mau ngomong pemuda yang kamu cari itu seperti apa sih ?

Ratminah :
Iiih …bapak soal itu aja.. wong ratminah belum ada niat kok..

Bapak Dam :
Kamu kan sudah besar, sudah waktunya berumah tangga. Wajarkan bapak tanya itu ?

Ratminah :
Iya benar, ratminah juga ngerti. Begini deh pak, ratminah tahu selera bapak, ya pak ya ?

Tiba-tiba ada suara tokek.
Bapak Dam :
Suara tokek nok ! Nasib baik datang..

Ratminah :
Di hitung pak.

Bapak Dam :
(tokek) …Rejeki (tokek)…. Blai (tokek)…. Rejeki (tokek)….. Blai…

Rayminah :
Kok blai pak.. mestinya dihitung dari blai dulu pak.

Bapak Dam :
Oh ya ya… mungkin besok ada..

Tiba-tiba suara tokek muncul lagi.
Bapak dam :
Nah itu tokek lagi nok !…

Ratminah :
Dihitung dari blai pak ..

Bapak Dam :
Ya ya… (tokek)….. Blai… rejek….. lho ! Tekek kurang ajar ! Njaluk sogok ! Ning ndi iki ya …

Kemudian ada suara-suara orang ronda malam.
Bapak dam :
Kok sudah ada orang ronda ya..?

Ratminah :
Sudah malam pak

Bapak Dam :
Yo wis, bapak masuk istirahat dulu. Jangan lupa kunci jendela sama pintu.

Ratminah :
Iya pak..

Bapak dam kemudian masuk, suratminah yang masih ada diluar tiba-tiba merasa suasana menjadi menyeramkan. Ratminah ketakutan dan segera masuk kedalam.

Dipanggung digambarkan siluet ratminah yang masuk kekamarnya dan tidur. Kemudian terdengar suara seseorang yang membacakan mantra..
“niat ingsun arepan maca kemat jaran guyang…dudu ngemat-ngemat tangga..dudu ngemat wong liwat dalan…sing tak kemat anakke bapak dam kang aran suratminah… kang demen drajad desa milangkori..sing lagi turu gageh nglilira..yen wis nglilir gageh jagonga.. yen wis jagong gageh ngadeka…yen wis ngadek mblayua..mbrenginginga..kaya’ jaran… teka welas ..teka asih.. atine suratminah welas asih.. ning badan ingsun…”

Babak 8

Setting diteras rumah Bpak dam, suasana pagi hari. Bapak dam keluar ke depak teras.

Bapak dam :
Nok !! Bangun nok !! Ratminah bangun !! sekolah !! Ayoo bangun ! bangun!! sekolah !!

Kemudian ratminah keluar dengan agak sempoyongan.
Bapak Dam :
He sudah siang ! Ayo adus ! sekolah !

Ratminah :
Emoh bapak !

Bapak Dam :
Emoh ! emoh ! kena apa Sekolah emoh ?!

Suratminah :
Emoh bapak…

Bapak dam :
Yo wis adus..adus..sudah siang..

Ratminah :
Emoh bapak..

Bapak dam :
Sekolah emoh ! adus emoh ! kena apa rat ? … yowis gawekno bapak wedang… wedang..

Ratminah :
Wedang bapak ?…

Bapak Dam :
Iyaa..wedang.. nok !

Kemudiasn suratminah masuk.
Bapak Dam :
Heh ! ana apa ya ? macem-macem… sekolah gak mau adus gak mau…

Kemudian suratminah masuk bawa golok.
Suratminah :
Ini bapak…

Bapak Dam :
Heh !! wedang nok !! wedang!! Kenapa dibawakan golok !! budheg ya ?! wedang sama golok beda ! wedang-golok ! Wedang – golok ! beda jauh !…

Ratminah :
Wedang bapak..

Bapak dam :
Ya ! Wedang !

Kemudian Ratminah masuk lagi.
Bapak dam :
Aduuuh ! ana apa ya… ratmianah..ratminah…apa sakit ?..

Kemudian ratminah keluar lagi dan semakain sempoyongan, tidak sadar kakinya terantuk kursi dan terjatuh sambil latah menyebut nama seseorang.

Ratminah :
Kang Baridin !! Kang Baridin !!!

Bapak Dam :
Heh nok !! Nyebut ! Nyebut ! ada apa nok !! Kang baridin sapa ?!!

Ratminah :
Kang baridin pak…. Kang baridin lagi wluku pak..

Bapak Dam :
Heh nok ! kang baridin sapa ! lagi ngluku di sawah sapa ?!! heh !! Nok eling nok !! eling !!

Ratminah :
Kang baridin pak.. ayo pak nyusul kang baridin..kang baridin lagi di sawah pak…

Bapak Dam :
Nook…eling nook..eliiiing…

Ratminah :
Kang Baridiiiiinnn!!!….

Ratminah berlari keluar rumah dikejar oleh Bapak Dam.

Babak 9

Disebuah jalan desa tampak Gemblung seorang diri sedang mencari temannya baridin.

Gemblung :
Aduuh… baridin ini kemana ya ? dicari berhari-hari.. kok tidak kelihatan.. heh macem-macem.. kemana anak itu…Berhasil apa tidak ya ? tapi Baridin kemana ? saya jadi pengen tahu..

Tanpa sepengetahuan Gemblung muncul Suratminah yang sudah gila memegang tangan gemblung.
Suratminah :
Nah ! ini kang baridinnya !! Ayo kawing kang..

Gemblung :
Heh ! Orang gila ! mask kawin sama orang gila !
Suratminah :
Ayo kang baridin kawin.. lho ! kang baridin nya kok jelak ?

Gembleng :
Huuu !! enak saja ! dasar orang gila ! (kemudian gemblung sadar siapa yang sedang gila ) eh ..ini ratminah… waah.. ratmianah sudah gila..berarti baridin sudah berhasil..

Suratmianah :
Ayo kang kawin … kang baridin ..hik hik hik..

Gemblung :
Ratminah gila !! Ratminah gilaaaa !!

Gemblung lari dari pegangan suratminah.

Babak 10

Setting di sebuah jembatan tampak baridin, berdiri merenung, kemudian tiba-tiba Gemblung datang mendekati baridin.

Gemblung :
Din ! Hei Din ! (terengah-engah ) Bagaimana hebat tidak ?

Baridin :
Hebat apaan ?

Gemblung :
Yaa aji kemat jaran goyang itu.. bagaimana?

Baridin :
Kamu ngomong apa blung ?

Gemblung :
Kemarin saya lihat ratminah sudah gila

Baridin :
Yang bener kamu blung ?

Gemblung :
Bener din. Ratminah gila karena ajian kemat jaran guyang itu.

Baridin :
Saya tidak percaya.. kalo ratminah sudah gila, sebelum lihat dengan mata kepala saya sendiri

Gemblung :
Lho ini bener din

Baridin ;
kamu pasti bohong….

Gemblung :
Huuu !! dikasih tahu bener-bener malah nuduh saya bohong ! kepret siah !!

Tanpa diketahui Baridin ratmianah berjalan kearahnya. Kemudian baridin menyadari siapa yang datang. Dia tampak kaget ternyata yang datang adalah suratminah yang telah menjadi gila.

Suratminah :
Kang… ayo kawin kang..kang baridin… ayo..ayoo kawin kang.. kang baridin jadi kamajaya-nya, ratmianh jadi dewi kamaratih-nya .. ya kang.. ayo kang kawin…

Baridin yang sudah lemah karena mengamalkan ajian jaran goyang itu dan ratminah yang gila, tak bisa menguasai kesimbangan tubuhnya, dan kemudian mereka terjatuh.
Ratminah :
Kang !

Baridin :
Apa rat ? kawin ? ratminah ! ratminah ! gak pantas Ratminah kawin sama baridin. Baridin anake mbok wangsih ! wong ora duwe ! celanane tambalan ! wong gowo wluku ! Tidak Rat ! kamu kan sudah bilang, orang yang suka sama kamu itu wong gedeanm wong sugihan, wong nggowo motor ! mobil ! sepur ! Kapal ! kenapa kamu ngejar-ngejar saya ?!

Suratminah semakin lemah.
Suratminah :
Kaaang… ratminah sudah gak kuat kaang…kang baridiin..

Baridin menyadari sesuatu
Baridin :
Wah.. ini pasti akibat ajian jaran guying, ratminah sudah gila. Ratminah ! Ratminah ! Masak baridain kawin sama orang gila ! Baridin malu sama tetangga ! Bagaimana denganteman-teman baridin ? mereka pasti bilang, hoi ! baridin kawin sama ratminah anaknya bapak dam perempuan gila ! Ratminah ! ratminah ! perempuan gila itu kawinnya sama laki-laki gila !

Ratminah yang semakin lemah kemudian terjatuh dan mati menabrak dan di tangkap bariadin. Baridin menjadi bingung dan semakin kalut dibuatnya.
Ratminah :
Kaaang !!!….

Baridin :
Rat….. ratminah !!…. Ratminah!!..rat !!!….

Baridin yang juga lemah semakin kalut dan tak bisa mgatasi kelemahan fisik dan psikoliginya, sehingga dia mati didekat suratminah sambil mnyebut gemblung dan ajian jaran guying.

Baridin :
Blung !! Gemblung !! Ajian kemat Jaran Goyang Bluuung !!!!!!……….

Baridin dan suratminah telah mati. Tanpa disangka Gemblung kembali ketempat itu dan terkaget melihat kenyataan atas kedua anak manusia itu. Dia mencoba bangunkan baridin.

Gemblung :
Din ! din ! ( Baridin tidak terbangun )Ini….ini…. ini pasti akibat ajian kemat jaran goyang !!!

Takut akan terjadi sesuatu Gemblung lari meninggalkan mayat keduanya.

Selesai…….. !!!

Sumber: http://sastra-indonesia.com/2010/12/opera-jaran-goyang/

Read More......

Dewi Sri

Rodli TL

Adegan 1

Musik gamelan dan rancak bambu
Para penari bergerak seperti ular, gerakannya lincah dan menggelombang. Gerakannya nampak indah. Dari tubuh tarian ular itu muncul perempuan cantik menari dengan tarian yang lebih indah, namun tetap seirama dengan kelompok penari lain. Perempuan cantik itu adalah Dewi Sri

Adegan 2

Beberapa menit kemudian, muncul Batara Guru dengan tariannya. Ia mengamati Dewi Sri yang masih menari.

Adegan 3

Kelompok penari ular sawah itu bergerak mengelilingi Dewi Sri, lalu pergi meninggalkannya.

Adegan 4

Dewi Sri terus menari sendiri. Dan mendekatlah batara guru. Ia bergerak menari menemani Dwi sri.
Musik berhenti.

1. Batara Guru : Bersama engkau aku menari Dewi, aku menemukan akar-akar kehidupan. Kehidupan itu bernafas sejuk, nafasnya diantara akar-akar tanah. Engkau adalah Maha Dewi. Para Dewa menaruh hati padamu. Kecantikanmu membuatku jatuh cinta Dewi
2. Dewi Sri : Batara Guru, saya telah berjanji pada ibu, saya turun dari Taman Sorga Loka dengan maksud menyampaikan amanat hidup.
3. Batara Guru : Sungguh, engkau adalah Maha Dewi tercantik..
4. Dewi Sri : maaf, Batara Guru. Saya harus pergi sekarang ke Buana Panca Tengah. Kedatanganku sangat dinanti. Kami tidak bisa membiarkan mereka tidak menemukan makanan.

Musik
Dewi Sri meninggalkan Batara Guru

Adegan 5

Orang-orang menari. Namun tariannya amat lemah. Mereka terlihat kelaparan.
Orang-orang : (menari dan menyanyi dengan tidak bertenaga)
Tiada daun, buah, dan biji yang perut menjadi kenyang
Duh, dewa-dewi di atas kahyangan
Lapar, lapar, lapar tidak tertahankan

Adegan 6

Dewi Sri turun, awalnya ia larut sedih, namun ia cepat sadar. Ia tidak boleh larut. Ia datang ke bumi dengan maksud membuat orang-orang mendapatkan makanan. Dwi Sri lalu menari dengan gerakan yang agak cepat dan indah. Orang-orang merespon Dwi Sri

5. Orang 1 : Nak, tarianmu cukup indah
6. Orang 2 : Engkau pasti dari Taman Sorga Loka
7. Orang 3 : Engkau adalah bidadari
8. Orang 4 : Saya yakin, bidadari itu membawa berkah
9. Orang 5 : membawa sesuatu yang bisa dimakan
10. Orang 6 : Dia adalah kehidupan dari kahyangan untuk kita semua

Dewi Sri tersenyum. Ia menari pelan. Tariannya menggambarkan orang yang sedang nampek (nebar benih padi), tandur (menanam padi), Ani-ani (memanen).

Orang-orang seperti dituntun untuk mengikuti gerakan Dewi Sri. Sesaat kemudian gerakan menjadi rancak dan cepat. Dwi Sri berhenti menari Ia nampak senang mengamati Orang-orang punya semangat hidup kembali. Melihat orang-orang bergembira menebar dan menanam padi, lalu memanennya dengan tarian.

11. Orang 1 : Sang Dewilah yang telah menjadikan tanah kita menjadi tetumbuhan yang bisa dimakan. Dia adalah Dewi Padi juga Dewi Kesuburan.
12. Orang 2 : Benih itu menjadi tumbuhan yang semilir
13. Orang 3 : Kita memiliki semangat hidup lagi
14. Orang 4 : Kita kembali seperti penganten
15. Orang 5 : Ya, kita laksana Raden Kamajaya yang sedang jatuh cinta pada Dewi kamaratih
16. Orang 6 : Dia adalah Dewi Sri, Dewi Kesuburan
17. Orang 1 : Dalam jiwa Sang Dewi, kita menemukan akar-akar kehidupan. Akar-akar itu adalah dian. Akar-akar itu sehangat susu ibu.

Orang-orang menari dan menyanyi
“tanah kita adalah sorga
Tumbuh padi menjadi nasi
Dimakan pagi, siang dan malam hari”

Mereka terus bergembira sampai malam. Dan tertidur tenang. Malam hari muncul babi.

18. Orang 1 : Ayo bangun, bangun! Ada babi kecil, ada babi kecil! Babi itu merusak tanaman kita

Orang-orang serentak bangun dengan beriringan musik kentongan. Gerakannya menjadi tarian menangkap babi. Namun mereka kwalahan.

19. Orang 1 : kita harus meminta pertolongan Dewi Sri

Orang-orang membentuk formasi memanggil-manggil Dewi Sri.

20. Orang-orang : (memanggil dewi sri)

Sang Hyang Dewi, engkau adalah Dewi Kesuburan kami.
Ragamu adalah seperti raga kami
Hidupkanlah raga yang tanah ini dengan kesegaran buah dadamu.
Sucikanlah tanah yang kotor ini.
Usirlah hama-hama pemutus nadi hidup itu.
Usirlah bala-bala yang mengancam tanah dan sawah kami

Dwi sri kemudian tiba-tiba muncul di tengah orang-orang. Dwi sri bergerak menari dalam lingkaran orang-orang.

21. Dwi Sri : Janganlah engkau terus hidup dengan kebathilan.
22. Babi : Aku dihukum Sang Batara Guru
23. Dwi Sri : Karena engkau terus menerus hidup dalam kesombongan
24. Babi : Aku telah bersumpah Dewi, selama hidupku tidak akan puas bila tidak berbuat jahil pada makhluk apa saja.
25. Dwi Sri : Namun jangan pada tanaman padi.
26. Babi : Justru tetumbuhan padi adalah makanan kesukaanku.
27. Dwi Sri : Tetumbuhan itu bukan untukmu
28. Babi : Dwi Sri, Aku turun dari kahyangan ini dengan maksud agar aku leluasa melakukan apa saja. Aku tidak mau terikat pada peraturan dewa-dewa. Maka jangan larang aku itu memakan tanaman padi yang hijau dan subur itu
29. Dwi Sri : Padi itu aku yang membawa dari kahyangan, padi itu adalah raga dan jiwaku. Di sana terdapat kesegaran susu buah dadaku. Dan disanalah kesuburan bunga-bunga jiwaku
30. Babi : (tertawa) Aku tidak peduli dengan kata-kata sucimu.(Tertawa) Saya akan melakukan apa saja atas kehendak hasratku. (Tertawa). Minggirlah, jangan halangi aku untuk memakan tumbuhan itu.
31. Dwi Sri :Engkau yang harus pergi!

Dwi sri menjadi ular lalu bertarung dengan babi. Pertarungannya sangat sengit. Dan akhirnya babi kwalahan dan lari tungganglanggang.

32. Orang-Orang : terimakasih, Sang Hyang Dewi. Sujud sukur atas karunia pertolonganmu. Sujud sukur akan karunia kesuburan. Sang Hyang Dewi Sri, Dewi kesuburan petani.

Musik menghentak keras. Semua tokoh statis dengan formasi pemujaan terhadap Dewi Sri. Musik lamat-lamat menghilang sebagai pertanda pertunjukan selesai.

Tamat

Lamongan, 25 Mei 2010

Sumber: http://sastra-indonesia.com/2011/04/dewi-sri/

Read More......

Naskah Monolog Perempuan Harum Kamboja*

Karya: Rodli TL

Adegan 1

Set panggung adalah taman pekuburan. Penuh dengan batu-batu nisan, dan reranting yang daunnya berguguran

Musik dan nyanyian pembuka adegan

Malam berhembus lirih
Membawa harum kamboja

Perempuan dan setia
Kunang-kunang dan cahaya

Berkabar tentang lelaki
Di alam baka yang sunyi

Menghadap Sang Maha Yang Suci

Perempuan itu berjalan mengendap-endap, menerobos semak belukar, menyusup di kegelapan. Cangkul di pundaknya terasa membebani langkahnya. Ia menyisiri batu-batu nisan dengan membelakangi penonton.

Perempuan :
Seperti hari-hari sebelumnya. Ya, seperti hari-hari sebelumnya. Hari ini sudah yang kesekian kali aku mengunjungi suamiku yang terbujur dalam liang lahat. Seperti hari-hari biasanya.

Musik dan nyanyian terdengar

Malam berhembus lirih
Membawa harum kamboja

Perempuan dan setia
Kunang-kunang dan cahaya

Berkabar tentang lelaki
Di alam baka yang sunyi

Menghadap Sang Maha Yang Suci

Perempuan itu hanyut dalam nyanyian. Ia bergerak mengambil payung yang berada di atas kuburan suaminya. Ia menagis dan mendekapnya.
Nyanyian lirih. Tangisan perempuan makin menjadi. Ia memukul-mukul makam suaminya.

Perempuan :
Suamiku, kalau kau masih mencintaiku dan anakmu, bangunlah, kali ini akau dating dan mengharap kau mau jujur kepadaku. Tak ada orang di sini. Kau harus berani mengatakan kepadaku. Kau harus katakana apa yang telah terjadi saat itu.
Kalau kau masih tidak bergeming dari kebekuanmu, berarti kau menghianati dirimu sendiri. Nak kita tidak pernah sekolah lagi. Hidup kita hancur. Air mataku tidak akan pernah berhenti karena kekejaman yang menusuk mata ini..

Musik dan nyanyian terdengar lagi.
Perempuan itu mulai bangkit dari duduknya. Ia bergerak ikuti nyanyian sambil memainkan payungnya.

Malam berhembus lirih
Membawa harum kamboja

Perempuan dan setia
Kunang-kunang dan cahaya

Berkabar tentang lelaki
Di alam baka yang sunyi

Menghadap Sang Maha Yang Suci

Musik berhenti.
Berjalan dengan cepat mengembalikan payung papa posisi semula. Lalu ia berdiri tegap di samping makam suaminya.

Perempuan :
Aku sekarang tidak takut. Tetapi kau masih tetap diam. Kalau kau dulu bisa berkata jujur, mengapa sekarang kepada istrimu kau bungkam seribu kata? Sungguh hatiku sedih sekali, kalau iangat berita yang ditulis di Koran tentang kematianmu. Sungguh aku tidak percaya kalau kau berselingkuh dengan istri teman dekatmu.

Musik terdengar sedih.
Perempuan berpindah posisi ke samping depan dengan pelan.
Ia berdiri dengan menarik nafas panjang. Pada raut wajahnya mulai muncul amarah. Ia berkata dengan lantang.

Perempuan :
kalau itu tidak benar mengapa kau diam? Mati harus beralasan. Kau harus menghadap bapak hakim tau polisi dan mengatakan kepada mereka bahwa berita itu hanya rekayasa belaka. Atau kalau kau mau, kau harus menyeret mereka yang telah menyelakakanmu. Mengapa kau tidak berani menantang, seperti kau berani berbicara jujur kepada orang lain, mengapa?

Perempuan bergerak ambil sisi kiri panggung.

Perempuan :
Suamiku, kematianmu membuat orang lain tidak mengerti ikut terseret dalam kubangan setan. Dan ini membuatku dan anakmu menderita. Aku tahu, kau pun tahu, mereka punya uang dan senjata. Mereka bisa saja mengganti otak kita dengan otak kerbau, mencungkil mata kita, mengganti hati kita dengan hati anjing. Kau harus berbuat seperti dulu. Besok pengadilan mengetukan palunya. Kau harus menolongnya, agar mereka tidak teerus-menerus bersorak-sorai dalam kubangan air mata orang lain. (ia mengamil cangkul lalu memainkannya seperti menggali makam suaminya) ayo bangunlah suamiku……… bangunlah! (Perempuan itu mengayunkan cangkulnya dengan membabi buta) aku harus membuktikan bahwa berita itu adalah rekayasa atau bukan. Kau harus berani menghadapiku kalau kau lelaki jujur.

Amarah perempuan meledak dengan diiringi musik perkusi menghentak-hentak. Suara burung gagak-gagak ikut menjerit.

Ia berbicara keras, seakan berdialog dengan orang lain

Perempuan :
Ini kuburan suamiku! Ia harus menghadap ke pengadilan! Ia saksi utama atas kematianya. Ia harus menjelaskan kematiannya di muka pengadilan. Hanya ia yang bisa membela dirinya. Tidak ada alasan untuk mencegahku

Dengan cepat perempuan itu mengangkat cangkul dan mengayunkannya. Saking kalapnya, perempuan itu terrjungkal dan cangkul terlempar jauh.

Perempuan :
Kau menyakitiku. Kau berusaha seperti mereka agar kasus kematian suamiki tidak terbongkar. (menangis)

Isak tangis perempuan itu mulai mereda. Dengan tersendat-sendat ia berkata.

Perempuan :
Suamiku telah mempertaruhkan nyawanya demi menjalankan kewajibannya. Tetapi kematian itu justru membuatnya tidak tenang di pekuburan. Ia difitnah. Ia disudutkan, ia dibunuh dengan keji sekali. Semua pintu tertutup rapat.

Perempuan :
Ini bukan soal pekerjaan yang menyebabkan kematiannya. Tetapi kejujuran yang menyebabkan ia mati.

Musik dan nyanyian terdengar lagi

Malam berhembus lirih
Membawa harum kamboja

Perempuan dan setia
Kunang-kunang dan cahaya

Berkabar tentang lelaki
Di alam baka yang sunyi

Menghadap Sang Maha Yang Suci

Musik dan nyanyian berhenti

Perempuan itu segera meninggalkan makam suaminya dengan berjalan terseok-seok.

Perempuan :
Nyonya, kalau kekuasaan ada pada puncuk senjata, maka kebenaran ada pada peluruhnya yang setiap saat akan meledak dan menghancurkannya. (menoleh kebelakang dengan dengan barah hati yang terus berkobar) Aku pasti kembali

Musik dan nyanyian terdengar lagi

Malam berhembus lirih
Membawa harum kamboja

Perempuan dan setia
Kunang-kunang dan cahaya

Berkabar tentang lelaki
Di alam baka yang sunyi

Menghadap Sang Maha Yang Suci

Adegan 2

Setting Panggung berubah pada pelataran pengadilan. Perempuan itu berdiri dengan menenteng dua kepala. Yang satu telah menjadi tengkorak sedang yang satunya masih utuh. Darah segar menetes-netes dari lehernya. Perempuan itu tertawa menang dan terus berjalan menujuh pintu ruangan pengadilan. Ia kemudian berdhenti dan berdiri tegap di depan meja persidangan.

Perempuan :
Ini adalah dua mayat yang telah terbunuh. Mereka terbunuh karena menjalankan tugasnya. Tetapi apakah kalian tahu siapa pembunuhnya? (Suara sepih tertujuh pada mata perempuan). Kalau kalian tahu, kenpa tidak ditulis besar-besaran di Koran. Tulis saja!

Perempuan itu terus berteriak-teriak tidak karuan.
Musik beriringan menghentak-hentak
Muncul penjual Koran menawarkan dagangannya

“Koran, Koran-koran. Dua pria dibantai perempuan gila!”

Terdengar suara Ketua Hakim mengetukkan palu tiga kali. Tanda setuju.
Suasana menjadi gaduh dengan iringan musik dan nyanyian penutup adegan.

Salah orang bilang salah
Orang salah bilang salah
Ekskusi suatu hari kemudian

Salah bilang orang salah
Bilang salah salah orang
Ekskusi suatu hari kemudian

Tamat

*Disadur dari cerpen Kesetiaan Sang Istri Karya R. Giryadi

Lamongan, 28 September 2009

Sumber: http://sastra-indonesia.com/2011/03/naskah-monolog-perempuan-harum-kamboja/

Read More......